BPS Segera Telusuri Disparitas Data Jokowi Soal Jagung Impor

0
68

 

PALEMBANG,   —   Badan Pusat Statistik (BPS) mengaku akan segera menelusuri adanya perbedaan data impor jagung antara data yang tercatat di BPS dengan data yang dimiliki Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan.

Langkah BPS ini merespon kabar yang beredar terkait disparitas yang jauh antara data impor jagung yang disebut oleh Calon Presiden 01, Joko Widodo, yang menyebutkan data impor jagung terakhir sebesar 180.000 ton sementara data yang tercatat di BPS sebesar 737,22 ribu ton. Jokowi mengaku bahwa data impor jagung yang dimilikinya berasal dari Kementerian terkait.

Kepala BPS Indonesia, Suhariyanto, mengatakan, data ekspor impor secara rutin dirilis BPS setiap tanggal 15 setiap bulannya. Data neraca perdagangan dihimpun BPS dari berbagai sumber seperti Bea Cukai, BI dan Kementerian Keuangan sesuai MoU yang dijalin BPS dengan ketiga instansi tersebut. Khusus untuk impor jagung, data yang dimiliki BPS mencakup seluruh jenis jagung baik untuk makanan ataupun pakan ternak.

“Kemungkinan yang disebut Pak Jokowi itu 180.000 ton itu untuk jagung pakan ternak. Pastinya saya tidak tahu, mungkin itu perlu konfirmasi ke Kementerian Pertanian,” ucap Suhariyanto saat menghadiri Rapim BPS Tingkat Provinsi Se-Indonesia di Wyndham Opi Hotel Palembang, Selasa (19/2).

Menurut Suhariyanto, data yang dimiliki Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan seharusnya tidak berbeda dengan data yang dimiliki oleh BPS. Terkait adanya perbedaan data, Suhariyanto menolak untuk memberikan komentar lebih jauh sebelum melakukan kroscek dengan kementerian terkait.

“Saya harus telusuri dulu yang dimaksud 180.000 ton itu maksudnya apa dan sumbernya dari mana. Bisa saja kita mengatakan hal yang sama tapi konsep dan definisinya berbeda,” tukasnya.(Dee)

LEAVE A REPLY